Senin, 31 Agustus 2026

Maulid Nabi Muhammad SAW di SMP Muhammadiyah 2 Godean, Kuatkan Iman dan Amal Shaleh

Godean, Sleman, Yogyakarta — SMP Muhammadiyah 2 Godean menyelenggarakan Pengajian dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang bertempat di Masjid At-Tauhid, Kompleks SMP Muhammadiyah 2 Godean, Sembuh, Sidomulyo, Godean, Sleman, Yogyakarta (24/8), atau tepatnya di sebelah timur calon Mapolda DI Yogyakarta.


Kegiatan pengajian berlangsung dalam suasana penuh khidmat dan menjadi momentum bagi keluarga besar SMP Muhammadiyah 2 Godean untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus meneladani akhlak dan perjuangan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.


Dalam tausiyahnya, Ustadz H. Musthofa, S.Ag., M.Pd.I. menyampaikan pentingnya menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam kehidupan. Peringatan Maulid Nabi tidak semata-mata menjadi kegiatan seremonial, tetapi harus mampu meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah dan mendorong umat Islam untuk mengamalkan ajaran beliau.


Ustadz Musthofa juga mengingatkan jamaah baik murid maupun guru dan karyawan mengenai pentingnya memperkuat iman dan memperbanyak amal saleh sebagai bekal menuju kehidupan akhirat. Al-Qur'an memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh dengan balasan surga. Karena itu, kehidupan seorang muslim hendaknya senantiasa diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah, akhlak yang baik, serta amal yang memberikan manfaat bagi sesama.


Keteladanan Rasulullah SAW, lanjut beliau, dapat diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama melalui kejujuran, kesabaran, kasih sayang, amanah, dan kepedulian terhadap orang lain. Nilai-nilai tersebut sangat penting ditanamkan kepada para peserta didik agar mereka tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak mulia.


Pengajian ini diharapkan menjadi sarana meningkatkan keimanan, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta membangun karakter peserta didik yang berakhlak mulia. Semangat meneladani Rasulullah hendaknya tidak berhenti pada peringatan Maulid, tetapi diwujudkan dalam perilaku sehari-hari di sekolah, keluarga, maupun masyarakat.


Melalui kegiatan tersebut, keluarga besar SMP Muhammadiyah 2 Godean berkomitmen untuk terus menghadirkan pendidikan yang memadukan iman, ilmu, teknologi, dan akhlak, sehingga para peserta didik mampu tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, berprestasi, dan bermanfaat bagi umat.


Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad. Semoga kita semua mendapatkan syafaat Rasulullah SAW dan kelak dikumpulkan bersama beliau di dalam surga Allah SWT. Aamiin.

Read More

Minggu, 02 Agustus 2026

Pendidikan Kekhasan Jogjakarta di SMP Muhammadiyah 2 Godean: Menanamkan Tata Krama dan Filosofi Budaya Jawa


Godean – Suasana hangat dan penuh semangat mewarnai kegiatan Pendidikan Kekhasan Jogjakarta (PKJ) yang diikuti semua murid dan guru SMP Muhammadiyah 2 Godean pada Kamis Pon, 30 Juli 2026. Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu sederhana namun sarat makna tentang unggah-ungguh dan tata krama masyarakat Jawa:


"Yen isuk sugeng enjing,

Yen awan sugeng siang,

Yen sore sugeng sonten,

Yen bengi sugeng dalu.

Diparingi matur nuwun,

Ditimbali matur dalem,

Yen lepat nyuwun pangapunten."


Lagu tersebut menjadi pengantar pembelajaran tentang pentingnya sopan santun, tata krama, dan penghormatan kepada sesama yang menjadi bagian penting dari budaya Yogyakarta.


Dalam penyampaian materi, Bopo Nurkasiadi sebagai narasumber menjelaskan filosofi lima jari tangan yang sarat dengan nilai kehidupan. Jari jempol melambangkan keteladanan dan kepemimpinan, jari telunjuk sebagai penunjuk arah dan petunjuk kebaikan, jari tengah melambangkan pendirian yang teguh, jari manis menjadi simbol kesetiaan dan ikatan suci, sedangkan jari kelingking melambangkan kerendahan hati serta kelemahan yang tetap harus dihargai dan disyukuri.


Peserta juga diajak memahami etika menunjuk dalam budaya Jawa. Jika dalam kehidupan sehari-hari banyak orang menggunakan jari telunjuk untuk menunjuk seseorang atau suatu tempat, dalam budaya Jawa tindakan tersebut dianggap kurang sopan. Sebagai gantinya, masyarakat Jawa menggunakan ibu jari yang disertai sikap tubuh sedikit membungkuk sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain.


Selain filosofi lima jari, pemateri juga membahas pentingnya pelestarian busana adat Yogyakarta. Bopo Nurkasiadi yang juga abdu dalem Kraton Yogyakarta menjelaskan bahwa busana Jawa bukan sekadar pakaian, melainkan identitas budaya yang mencerminkan kesederhanaan, kesopanan, dan kebanggaan terhadap warisan leluhur. Penggunaan lurik, surjan, kebaya, maupun busana tradisional lainnya menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai budaya di tengah perkembangan zaman.


Para murid diajak untuk membiasakan penggunaan bahasa Jawa yang santun dan mengenakan busana adat Jawa pada kesempatan tertentu sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya daerah. Melalui kebiasaan tersebut diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter, tata krama, dan jati diri yang kuat sebagai warga Yogyakarta.


Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) sendiri merupakan program pendidikan berbasis budaya yang dikembangkan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui nilai-nilai luhur budaya Yogyakarta, sehingga mampu melahirkan generasi jalma kang utama yang berakhlak mulia, berkepribadian luhur, dan tetap berakar pada budaya bangsa.


Melalui kegiatan ini, para murid diharapkan semakin memahami bahwa melestarikan budaya bukan hanya melalui pakaian atau bahasa, tetapi juga melalui perilaku sehari-hari yang mencerminkan sikap hormat, rendah hati, disiplin, dan penuh tanggung jawab.

Read More