GODEAN, SLEMAN – SMP Muhammadiyah 2 Godean menggelar kegiatan parenting dan pembagian hasil ASTS semester gasal, bagi orang tua/wali murid kelas VII, VIII, dan IX pada Ahad, 11 Oktober 2026, pukul 07.45–09.00 WIB. Bertempat di Masjid At Tauhid SMP Muhammadiyah 2 Godean, kegiatan ini mengangkat tema “Mendampingi Remaja di Era Digital dan AI: Menjadi Orang Tua yang Dekat, Dipercaya, dan Mampu Mengarahkan Masa Depan Anak” dengan pemateri Wahdan Arifudin, S.Pd. selaku kepala sekolah SMP Muhammadiyah 2 Godean
Kegiatan ini mengajak orang tua memahami perubahan anak ketika memasuki usia remaja sekaligus merefleksikan pola komunikasi dan pengasuhan yang selama ini diterapkan di rumah. Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), orang tua dituntut tidak hanya mampu mengarahkan anak, tetapi juga membangun hubungan yang hangat, terbuka, dan penuh kepercayaan.
Dalam pemaparannya, Wahdan menegaskan bahwa parenting bukan sekadar upaya membuat anak selalu menurut kepada orang tua. Lebih dari itu, parenting merupakan proses mendampingi anak agar tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, berakhlak, dan tetap menjadikan orang tua sebagai tempat untuk pulang.
Polling Membuka Refleksi tentang Kedekatan Orang Tua dan Anak
Suasana parenting berlangsung interaktif melalui sejumlah polling yang mengajak orang tua menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka dalam mendampingi anak.
Pada polling pertama, peserta diminta menilai kedekatan komunikasi dengan anak dalam skala 1–5, mulai dari sangat jauh hingga sangat dekat. Hasil polling menunjukkan bahwa mayoritas orang tua menilai hubungan komunikasi mereka dengan anak berada pada kategori cukup dekat dan dekat.
Hasil tersebut menjadi pintu masuk untuk mendiskusikan pertanyaan penting: mengapa hubungan yang terasa dekat ketika anak masih kecil terkadang mulai berubah saat anak memasuki usia SMP?
Menurut Wahdan, salah satu penyebabnya adalah perubahan anak yang berlangsung lebih cepat daripada perubahan cara orang tua mendampinginya. Ketika masih kecil, anak cenderung banyak bertanya, senang ditemani, dan menjadikan orang tua sebagai sumber informasi utama. Namun, ketika memasuki usia remaja, anak mulai mencari identitas diri, membutuhkan privasi, menginginkan kemandirian, dan semakin dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan.
Di sisi lain, dunia pergaulan anak kini tidak hanya berlangsung di lingkungan rumah dan sekolah. Anak juga berinteraksi melalui WhatsApp, TikTok, Instagram, YouTube, permainan daring, dan berbagai layanan berbasis AI. Orang tua tidak selalu mengetahui apa yang dilihat, dipelajari, dan dialami anak di ruang digital tersebut.
Karena itu, kedekatan yang dirasakan orang tua perlu terus dirawat melalui komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan remaja.
## Kekhawatiran Orang Tua: HP, Pergaulan, dan Media Sosial
Pada sesi polling berikutnya, orang tua diajak mengungkapkan persoalan yang paling mereka khawatirkan dalam mendampingi anak. Berbagai persoalan yang menjadi perhatian antara lain penggunaan HP secara berlebihan, game, media sosial, prestasi akademik, pergaulan, ibadah, serta masa depan pendidikan anak.
Salah satu peserta, Pak Teguh, menyampaikan kekhawatirannya terhadap penggunaan HP, pergaulan, dan media sosial. Ketiga hal tersebut menjadi perhatian karena berkaitan erat dengan aktivitas keseharian remaja dan dapat memengaruhi kebiasaan, perilaku, serta proses pembentukan karakter mereka.
Pembahasan ini menegaskan bahwa tantangan orang tua saat ini bukan semata-mata membatasi penggunaan HP, melainkan juga memahami dunia anak dan membangun komunikasi agar anak bersedia terbuka ketika menghadapi persoalan.
Orang tua perlu mengetahui bagaimana anak menggunakan teknologi, dengan siapa mereka berinteraksi, serta bagaimana mereka menyikapi informasi dan pengaruh yang ditemui di media sosial. Pendampingan perlu dilakukan melalui dialog, keteladanan, pengawasan yang wajar, dan kesepakatan yang dipahami bersama.
## Dari Mengatur Menjadi Mendampingi
Wahdan mengajak orang tua mengubah pendekatan pengasuhan dari sekadar mengatur menjadi mendampingi. Jika sebelumnya orang tua terbiasa menentukan hampir semua keputusan anak, pada masa remaja anak perlu mulai dilibatkan dalam diskusi dan penyelesaian masalah.
Komunikasi yang hanya berisi perintah, larangan, kritik, dan nasihat berisiko membuat anak memilih diam. Kalimat seperti “HP terus!”, “Kamu kalau dibilangi susah!”, atau “Pokoknya harus menurut!” mungkin muncul karena orang tua ingin melindungi anak. Namun, jika terlalu sering digunakan tanpa dialog, anak dapat merasa tidak dipahami.
Sebagai gantinya, orang tua dapat memulai percakapan dengan kalimat yang lebih terbuka, seperti, “Ayah/Ibu melihat akhir-akhir ini kamu kelihatan kurang semangat. Ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?”
Tujuannya bukan langsung mencari solusi, melainkan membuka ruang agar anak bersedia bercerita. Setelah mendengarkan, orang tua dapat membantu anak memahami masalah dan mencari jalan keluar bersama.
Tujuh Cara agar Anak Tetap Dekat dengan Orang Tua
Dalam kegiatan tersebut, Wahdan juga menyampaikan tujuh langkah praktis yang dapat diterapkan orang tua untuk menjaga kedekatan dengan anak remaja.
1. Kurangi ceramah, perbanyak bertanya.
Orang tua sebaiknya tidak langsung menuduh atau menyimpulkan ketika anak menunjukkan perubahan perilaku. Gunakan pertanyaan terbuka yang menunjukkan perhatian, sehingga anak merasa diberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang sedang dialaminya.
2. Dengarkan anak sampai selesai.
Ketika anak bercerita, hindari langsung menyalahkan, membandingkan, atau mengungkit pengalaman masa lalu. Kalimat seperti “Oh, jadi kamu merasa seperti itu?” dan “Terus menurutmu bagaimana?” membantu anak merasa didengarkan sebelum menerima nasihat.
3. Koreksi perilaku tanpa mempermalukan anak.
Anak tetap membutuhkan disiplin dan batasan. Namun, teguran sebaiknya berfokus pada perilaku yang perlu diperbaiki, bukan menyerang pribadi anak. Misalnya, “Perilakumu yang ini tidak tepat. Mari kita cari cara supaya tidak terulang.”
4. Buat kesepakatan, bukan hanya aturan.
Dalam penggunaan HP, game, media sosial, dan AI, orang tua perlu melibatkan anak dalam menyepakati waktu penggunaan, jadwal belajar, ibadah, tidur, serta konsekuensi jika aturan dilanggar. Dengan begitu, anak belajar memahami alasan di balik aturan dan bertanggung jawab terhadap kesepakatan yang dibuat.
5. Berikan kepercayaan secara bertahap
Remaja membutuhkan kesempatan untuk menunjukkan kemandirian. Orang tua dapat memberikan tanggung jawab sesuai usia dan kemampuan anak, kemudian mengevaluasi pelaksanaannya bersama. Kepercayaan perlu dibangun melalui tanggung jawab, komunikasi, dan konsistensi.
6. Ciptakan waktu mengobrol tanpa menggurui.
Kedekatan dapat dibangun melalui kegiatan sederhana, seperti makan bersama, berolahraga, berjalan sore, membeli makanan, atau berbincang sebelum tidur. Luangkan waktu tanpa gangguan HP, ceramah, maupun interogasi. Orang tua dapat bertanya, “Hari ini ada sesuatu yang membuat kamu senang?” atau “Ada yang ingin kamu ceritakan kepada Ayah/Ibu?”
7. Jadilah tempat pulang, bukan tempat takut.
Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu memastikan bahwa anak tetap memiliki ruang untuk meminta bantuan dan memperbaiki diri. Menjadi tempat pulang bukan berarti membiarkan kesalahan, melainkan memberikan arahan, kasih sayang, dan konsekuensi secara proporsional agar anak belajar bertanggung jawab.
Mendampingi Anak Menggunakan Teknologi secara Bijak
Selain membahas komunikasi keluarga, kegiatan parenting ini juga menyoroti pentingnya pendampingan dalam penggunaan AI. Orang tua perlu mengenali peluang teknologi untuk membantu proses belajar, sekaligus memahami pentingnya kejujuran, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir kritis.
Anak perlu dibimbing agar menggunakan AI sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Orang tua juga perlu membangun kebiasaan berdiskusi tentang informasi yang ditemukan di internet, menjaga privasi, serta memahami risiko interaksi di media sosial.
Pendekatan ini menuntut orang tua untuk terus belajar. Mereka tidak harus menguasai seluruh teknologi yang digunakan anak, tetapi perlu memiliki kemauan untuk memahami, bertanya, dan mendampingi.
Orang tua perlu mendengarkan sebelum menasihati, memahami sebelum menghakimi, memberikan kepercayaan sambil tetap melakukan pengawasan, menetapkan batas yang jelas, serta menunjukkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Menjelang akhir kegiatan, orang tua diajak merefleksikan perubahan yang ingin dilakukan setelah mengikuti parenting, mulai dari lebih sering mendengarkan, mengurangi kemarahan, membangun kesepakatan penggunaan HP, hingga lebih aktif mendampingi ibadah dan perkembangan anak.
Melalui kegiatan ini, SMP Muhammadiyah 2 Godean berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara sekolah dan keluarga dalam mendampingi peserta didik. Hubungan yang dekat, disiplin yang sehat, penguatan nilai-nilai agama, serta pemahaman terhadap perkembangan teknologi menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia, mandiri, bertanggung jawab, dan siap menghadapi masa depan.
Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, “Anak remaja tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang mau belajar memahami dunia mereka, tetap memberi batas, dan selalu menjadi tempat mereka pulang.”
Pada akhirnya, bukan hanya anak yang perlu belajar dan berubah. Orang tua pun perlu terus memperbarui cara mendampingi, sebab anak yang dihadapi hari ini bukan lagi anak yang sama seperti kemarin.

.jpeg)
