Godean – Suasana hangat dan penuh semangat mewarnai kegiatan Pendidikan Kekhasan Jogjakarta (PKJ) yang diikuti semua murid dan guru SMP Muhammadiyah 2 Godean pada Kamis Pon, 30 Juli 2026. Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu sederhana namun sarat makna tentang unggah-ungguh dan tata krama masyarakat Jawa:
"Yen isuk sugeng enjing,
Yen awan sugeng siang,
Yen sore sugeng sonten,
Yen bengi sugeng dalu.
Diparingi matur nuwun,
Ditimbali matur dalem,
Yen lepat nyuwun pangapunten."
Lagu tersebut menjadi pengantar pembelajaran tentang pentingnya sopan santun, tata krama, dan penghormatan kepada sesama yang menjadi bagian penting dari budaya Yogyakarta.
Dalam penyampaian materi, Bopo Nurkasiadi sebagai narasumber menjelaskan filosofi lima jari tangan yang sarat dengan nilai kehidupan. Jari jempol melambangkan keteladanan dan kepemimpinan, jari telunjuk sebagai penunjuk arah dan petunjuk kebaikan, jari tengah melambangkan pendirian yang teguh, jari manis menjadi simbol kesetiaan dan ikatan suci, sedangkan jari kelingking melambangkan kerendahan hati serta kelemahan yang tetap harus dihargai dan disyukuri.
Peserta juga diajak memahami etika menunjuk dalam budaya Jawa. Jika dalam kehidupan sehari-hari banyak orang menggunakan jari telunjuk untuk menunjuk seseorang atau suatu tempat, dalam budaya Jawa tindakan tersebut dianggap kurang sopan. Sebagai gantinya, masyarakat Jawa menggunakan ibu jari yang disertai sikap tubuh sedikit membungkuk sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain.
Selain filosofi lima jari, pemateri juga membahas pentingnya pelestarian busana adat Yogyakarta. Bopo Nurkasiadi yang juga abdu dalem Kraton Yogyakarta menjelaskan bahwa busana Jawa bukan sekadar pakaian, melainkan identitas budaya yang mencerminkan kesederhanaan, kesopanan, dan kebanggaan terhadap warisan leluhur. Penggunaan lurik, surjan, kebaya, maupun busana tradisional lainnya menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai budaya di tengah perkembangan zaman.
Para murid diajak untuk membiasakan penggunaan bahasa Jawa yang santun dan mengenakan busana adat Jawa pada kesempatan tertentu sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya daerah. Melalui kebiasaan tersebut diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter, tata krama, dan jati diri yang kuat sebagai warga Yogyakarta.
Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) sendiri merupakan program pendidikan berbasis budaya yang dikembangkan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui nilai-nilai luhur budaya Yogyakarta, sehingga mampu melahirkan generasi jalma kang utama yang berakhlak mulia, berkepribadian luhur, dan tetap berakar pada budaya bangsa.
Melalui kegiatan ini, para murid diharapkan semakin memahami bahwa melestarikan budaya bukan hanya melalui pakaian atau bahasa, tetapi juga melalui perilaku sehari-hari yang mencerminkan sikap hormat, rendah hati, disiplin, dan penuh tanggung jawab.






.jpeg)

