Rabu, 14 Oktober 2026

 Upacara Senin SMP Muhammadiyah 2 Godean: Ajak Siswa Bijak di Era Digital dan Membangun Karakter Kerja Keras

Upacara Senin SMP Muhammadiyah 2 Godean: Ajak Siswa Bijak di Era Digital dan Membangun Karakter Kerja Keras

GODEAN – SMP Muhammadiyah 2 Godean melaksanakan upacara bendera hari Senin, 12 Oktober 2026, di halaman sekolah dengan khidmat. Dalam a



manatnya, disampaikan oleh Ibu Ika Susanti, M.Pd selaku pembina upacara mengajak seluruh siswa untuk memahami tantangan kehidupan di era modern ini, khususnya perkembangan teknologi, era 4.0, dan digitalisasi yang semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari.


Bu Ika Susanti menyampaikan bahwa sebagai generasi muda, para siswa perlu memahami dan memperhatikan konsep 3F, yaitu Food (makanan), Fun (kesenangan), dan Fashion (pakaian atau gaya hidup). Ketiga hal tersebut merupakan bagian dari kehidupan yang perlu disikapi secara bijak agar tidak membawa pengaruh negatif terhadap perilaku dan masa depan siswa.


Pada aspek Food, siswa diingatkan untuk memperhatikan makanan yang dikonsumsi. Makanan bukan sekadar untuk memenuhi keinginan, tetapi juga harus mendukung kesehatan dan pertumbuhan tubuh. Oleh karena itu, siswa perlu membiasakan diri mengonsumsi makanan bergizi, menjaga kebersihan makanan, serta menghindari kebiasaan jajan sembarangan.


Sementara itu, Fun berkaitan dengan kesenangan atau hiburan yang menjadi bagian dari kehidupan remaja. Siswa boleh menikmati hiburan, bermain gim, menggunakan media sosial, dan melakukan aktivitas yang disukai. Namun, semuanya harus dilakukan secara seimbang dan bertanggung jawab. Jangan sampai kesenangan membuat siswa melupakan kewajiban belajar, ibadah, membantu orang tua, dan menjaga kedisiplinan.


Adapun Fashion berkaitan dengan pakaian, penampilan, dan gaya hidup. Dalam hal ini, siswa perlu memahami pentingnya berpakaian rapi, sopan, dan sesuai dengan aturan sekolah. Penampilan hendaknya mencerminkan kepribadian yang baik, bukan sekadar mengikuti tren atau keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.


Melalui pemahaman 3F tersebut, siswa diharapkan mampu menyaring berbagai pengaruh lingkungan dan perkembangan digital. Kemajuan teknologi hendaknya dimanfaatkan untuk hal-hal positif, seperti menambah wawasan, meningkatkan keterampilan, memperluas pengetahuan, dan mendukung proses pembelajaran.


Menjadi Murid dengan Ilmu, Kesehatan, dan Semangat Pantang Menyerah


Lebih lanjut, Ika Susanti menegaskan bahwa untuk menjadi murid yang baik, siswa perlu membekali diri dengan ilmu pengetahuan, menjaga kesehatan, rajin berolahraga, serta memiliki semangat pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan.


Ilmu menjadi bekal penting bagi siswa untuk memahami kehidupan, mengembangkan potensi diri, dan meraih cita-cita. Karena itu, siswa harus memiliki semangat belajar, rajin membaca, bersungguh-sungguh mengikuti pembelajaran, serta tidak mudah puas dengan pengetahuan yang telah dimiliki.


Selain ilmu, kesehatan juga perlu mendapat perhatian. Tubuh yang sehat membantu siswa menjalani aktivitas belajar dengan baik. Menjaga pola makan, beristirahat cukup, menjaga kebersihan diri, dan rutin berolahraga merupakan kebiasaan positif yang perlu dibangun sejak dini.


Pembina upacara juga mengingatkan pentingnya karakter pantang menyerah. Dalam proses belajar, setiap siswa tentu menghadapi kesulitan dan tantangan yang berbeda. Namun, kesulitan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Sebaliknya, tantangan harus menjadi kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan meningkatkan kemampuan.


Membangun Karakter melalui Kerja Keras, Kerja Cerdas, dan Kerja Tuntas


Dalam amanatnya, Ibu Ika Susanti juga menekankan pentingnya membiasakan diri menerapkan prinsip kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas dalam kehidupan sehari-hari.


Kerja keras berarti bersungguh-sungguh dalam menjalankan tanggung jawab, tidak mudah menyerah, dan terus berusaha mencapai hasil terbaik. Bagi siswa, sikap ini dapat diwujudkan dengan rajin belajar, disiplin mengerjakan tugas, serta tekun berlatih untuk meningkatkan kemampuan.


Kerja cerdas berarti berusaha dengan cara yang tepat, efektif, dan efisien. Siswa perlu mampu mengatur waktu, menentukan prioritas, memanfaatkan teknologi untuk belajar, serta memilih strategi yang membantu mereka memahami pelajaran dengan lebih baik.


Sementara itu, kerja tuntas berarti menyelesaikan setiap tugas dan tanggung jawab sampai selesai dengan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan. Siswa tidak cukup hanya memulai pekerjaan, tetapi juga harus membiasakan diri menyelesaikannya dengan baik, tepat waktu, dan tidak meninggalkan kewajiban begitu saja.


Ketiga prinsip tersebut perlu diterapkan secara seimbang agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, bertanggung jawab, dan siap menghadapi masa depan.


Kelas 7B Bertugas dengan Khidmat


Upacara bendera pada Senin pagi tersebut berlangsung dengan khidmat. Petugas upacara berasal dari siswa kelas 7B dengan pendampingan wali kelas, Ibu Dewi Rahayu, M.Pd, serta pembina dan pelatih upacara, Bapak Nurkasiyadi.


Keterlibatan siswa kelas 7B sebagai petugas upacara menjadi bagian dari pembelajaran kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan keberanian tampil di depan umum. Dengan pendampingan guru, para siswa mendapatkan kesempatan untuk melatih kemampuan, membangun kepercayaan diri, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.


Melalui amanat upacara tersebut, seluruh siswa SMP Muhammadiyah 2 Godean diharapkan semakin mampu menyikapi perkembangan zaman secara bijak, menjaga kesehatan, memperkuat semangat belajar, dan membangun karakter positif. Dengan bekal ilmu serta kebiasaan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas, para siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang berakhlak baik, berprestasi, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Read More
 Parenting SMP Muhammadiyah 2 Godean: Membangun Kedekatan Orang Tua dan Anak di Era Digital dan AI

Parenting SMP Muhammadiyah 2 Godean: Membangun Kedekatan Orang Tua dan Anak di Era Digital dan AI



GODEAN, SLEMAN – SMP Muhammadiyah 2 Godean menggelar kegiatan parenting dan pembagian hasil ASTS semester gasal, bagi orang tua/wali murid kelas VII, VIII, dan IX pada Ahad, 11 Oktober 2026, pukul 07.45–09.00 WIB. Bertempat di Masjid At Tauhid SMP Muhammadiyah 2 Godean, kegiatan ini mengangkat tema “Mendampingi Remaja di Era Digital dan AI: Menjadi Orang Tua yang Dekat, Dipercaya, dan Mampu Mengarahkan Masa Depan Anak” dengan pemateri Wahdan Arifudin, S.Pd. selaku kepala sekolah SMP Muhammadiyah 2 Godean


Kegiatan ini mengajak orang tua memahami perubahan anak ketika memasuki usia remaja sekaligus merefleksikan pola komunikasi dan pengasuhan yang selama ini diterapkan di rumah. Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), orang tua dituntut tidak hanya mampu mengarahkan anak, tetapi juga membangun hubungan yang hangat, terbuka, dan penuh kepercayaan.


Dalam pemaparannya, Wahdan menegaskan bahwa parenting bukan sekadar upaya membuat anak selalu menurut kepada orang tua. Lebih dari itu, parenting merupakan proses mendampingi anak agar tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, berakhlak, dan tetap menjadikan orang tua sebagai tempat untuk pulang.


Polling Membuka Refleksi tentang Kedekatan Orang Tua dan Anak


Suasana parenting berlangsung interaktif melalui sejumlah polling yang mengajak orang tua menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka dalam mendampingi anak.


Pada polling pertama, peserta diminta menilai kedekatan komunikasi dengan anak dalam skala 1–5, mulai dari sangat jauh hingga sangat dekat. Hasil polling menunjukkan bahwa mayoritas orang tua menilai hubungan komunikasi mereka dengan anak berada pada kategori cukup dekat dan dekat.


Hasil tersebut menjadi pintu masuk untuk mendiskusikan pertanyaan penting: mengapa hubungan yang terasa dekat ketika anak masih kecil terkadang mulai berubah saat anak memasuki usia SMP?


Menurut Wahdan, salah satu penyebabnya adalah perubahan anak yang berlangsung lebih cepat daripada perubahan cara orang tua mendampinginya. Ketika masih kecil, anak cenderung banyak bertanya, senang ditemani, dan menjadikan orang tua sebagai sumber informasi utama. Namun, ketika memasuki usia remaja, anak mulai mencari identitas diri, membutuhkan privasi, menginginkan kemandirian, dan semakin dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan.


Di sisi lain, dunia pergaulan anak kini tidak hanya berlangsung di lingkungan rumah dan sekolah. Anak juga berinteraksi melalui WhatsApp, TikTok, Instagram, YouTube, permainan daring, dan berbagai layanan berbasis AI. Orang tua tidak selalu mengetahui apa yang dilihat, dipelajari, dan dialami anak di ruang digital tersebut.


Karena itu, kedekatan yang dirasakan orang tua perlu terus dirawat melalui komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan remaja.


## Kekhawatiran Orang Tua: HP, Pergaulan, dan Media Sosial


Pada sesi polling berikutnya, orang tua diajak mengungkapkan persoalan yang paling mereka khawatirkan dalam mendampingi anak. Berbagai persoalan yang menjadi perhatian antara lain penggunaan HP secara berlebihan, game, media sosial, prestasi akademik, pergaulan, ibadah, serta masa depan pendidikan anak.


Salah satu peserta, Pak Teguh, menyampaikan kekhawatirannya terhadap penggunaan HP, pergaulan, dan media sosial. Ketiga hal tersebut menjadi perhatian karena berkaitan erat dengan aktivitas keseharian remaja dan dapat memengaruhi kebiasaan, perilaku, serta proses pembentukan karakter mereka.


Pembahasan ini menegaskan bahwa tantangan orang tua saat ini bukan semata-mata membatasi penggunaan HP, melainkan juga memahami dunia anak dan membangun komunikasi agar anak bersedia terbuka ketika menghadapi persoalan.


Orang tua perlu mengetahui bagaimana anak menggunakan teknologi, dengan siapa mereka berinteraksi, serta bagaimana mereka menyikapi informasi dan pengaruh yang ditemui di media sosial. Pendampingan perlu dilakukan melalui dialog, keteladanan, pengawasan yang wajar, dan kesepakatan yang dipahami bersama.


## Dari Mengatur Menjadi Mendampingi


Wahdan mengajak orang tua mengubah pendekatan pengasuhan dari sekadar mengatur menjadi mendampingi. Jika sebelumnya orang tua terbiasa menentukan hampir semua keputusan anak, pada masa remaja anak perlu mulai dilibatkan dalam diskusi dan penyelesaian masalah.


Komunikasi yang hanya berisi perintah, larangan, kritik, dan nasihat berisiko membuat anak memilih diam. Kalimat seperti “HP terus!”, “Kamu kalau dibilangi susah!”, atau “Pokoknya harus menurut!” mungkin muncul karena orang tua ingin melindungi anak. Namun, jika terlalu sering digunakan tanpa dialog, anak dapat merasa tidak dipahami.


Sebagai gantinya, orang tua dapat memulai percakapan dengan kalimat yang lebih terbuka, seperti, “Ayah/Ibu melihat akhir-akhir ini kamu kelihatan kurang semangat. Ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?”


Tujuannya bukan langsung mencari solusi, melainkan membuka ruang agar anak bersedia bercerita. Setelah mendengarkan, orang tua dapat membantu anak memahami masalah dan mencari jalan keluar bersama.


Tujuh Cara agar Anak Tetap Dekat dengan Orang Tua


Dalam kegiatan tersebut, Wahdan juga menyampaikan tujuh langkah praktis yang dapat diterapkan orang tua untuk menjaga kedekatan dengan anak remaja.


1. Kurangi ceramah, perbanyak bertanya.


Orang tua sebaiknya tidak langsung menuduh atau menyimpulkan ketika anak menunjukkan perubahan perilaku. Gunakan pertanyaan terbuka yang menunjukkan perhatian, sehingga anak merasa diberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang sedang dialaminya.


2. Dengarkan anak sampai selesai.


Ketika anak bercerita, hindari langsung menyalahkan, membandingkan, atau mengungkit pengalaman masa lalu. Kalimat seperti “Oh, jadi kamu merasa seperti itu?” dan “Terus menurutmu bagaimana?” membantu anak merasa didengarkan sebelum menerima nasihat.


3. Koreksi perilaku tanpa mempermalukan anak.


Anak tetap membutuhkan disiplin dan batasan. Namun, teguran sebaiknya berfokus pada perilaku yang perlu diperbaiki, bukan menyerang pribadi anak. Misalnya, “Perilakumu yang ini tidak tepat. Mari kita cari cara supaya tidak terulang.”


4. Buat kesepakatan, bukan hanya aturan.


Dalam penggunaan HP, game, media sosial, dan AI, orang tua perlu melibatkan anak dalam menyepakati waktu penggunaan, jadwal belajar, ibadah, tidur, serta konsekuensi jika aturan dilanggar. Dengan begitu, anak belajar memahami alasan di balik aturan dan bertanggung jawab terhadap kesepakatan yang dibuat.


5. Berikan kepercayaan secara bertahap


Remaja membutuhkan kesempatan untuk menunjukkan kemandirian. Orang tua dapat memberikan tanggung jawab sesuai usia dan kemampuan anak, kemudian mengevaluasi pelaksanaannya bersama. Kepercayaan perlu dibangun melalui tanggung jawab, komunikasi, dan konsistensi.


6. Ciptakan waktu mengobrol tanpa menggurui.


Kedekatan dapat dibangun melalui kegiatan sederhana, seperti makan bersama, berolahraga, berjalan sore, membeli makanan, atau berbincang sebelum tidur. Luangkan waktu tanpa gangguan HP, ceramah, maupun interogasi. Orang tua dapat bertanya, “Hari ini ada sesuatu yang membuat kamu senang?” atau “Ada yang ingin kamu ceritakan kepada Ayah/Ibu?”


7. Jadilah tempat pulang, bukan tempat takut.


Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu memastikan bahwa anak tetap memiliki ruang untuk meminta bantuan dan memperbaiki diri. Menjadi tempat pulang bukan berarti membiarkan kesalahan, melainkan memberikan arahan, kasih sayang, dan konsekuensi secara proporsional agar anak belajar bertanggung jawab.


Mendampingi Anak Menggunakan Teknologi secara Bijak


Selain membahas komunikasi keluarga, kegiatan parenting ini juga menyoroti pentingnya pendampingan dalam penggunaan AI. Orang tua perlu mengenali peluang teknologi untuk membantu proses belajar, sekaligus memahami pentingnya kejujuran, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir kritis.


Anak perlu dibimbing agar menggunakan AI sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Orang tua juga perlu membangun kebiasaan berdiskusi tentang informasi yang ditemukan di internet, menjaga privasi, serta memahami risiko interaksi di media sosial.


Pendekatan ini menuntut orang tua untuk terus belajar. Mereka tidak harus menguasai seluruh teknologi yang digunakan anak, tetapi perlu memiliki kemauan untuk memahami, bertanya, dan mendampingi.


Orang tua perlu mendengarkan sebelum menasihati, memahami sebelum menghakimi, memberikan kepercayaan sambil tetap melakukan pengawasan, menetapkan batas yang jelas, serta menunjukkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.


Menjelang akhir kegiatan, orang tua diajak merefleksikan perubahan yang ingin dilakukan setelah mengikuti parenting, mulai dari lebih sering mendengarkan, mengurangi kemarahan, membangun kesepakatan penggunaan HP, hingga lebih aktif mendampingi ibadah dan perkembangan anak.


Melalui kegiatan ini, SMP Muhammadiyah 2 Godean berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara sekolah dan keluarga dalam mendampingi peserta didik. Hubungan yang dekat, disiplin yang sehat, penguatan nilai-nilai agama, serta pemahaman terhadap perkembangan teknologi menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia, mandiri, bertanggung jawab, dan siap menghadapi masa depan.


Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, “Anak remaja tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang mau belajar memahami dunia mereka, tetap memberi batas, dan selalu menjadi tempat mereka pulang.”


Pada akhirnya, bukan hanya anak yang perlu belajar dan berubah. Orang tua pun perlu terus memperbarui cara mendampingi, sebab anak yang dihadapi hari ini bukan lagi anak yang sama seperti kemarin.

Read More

Rabu, 23 September 2026

Pencegahan Kenakalan Remaja, Kekerasan dan Radikalisme di SMP Muhammadiyah 2 Godean

Pencegahan Kenakalan Remaja, Kekerasan dan Radikalisme di SMP Muhammadiyah 2 Godean


Godean, Sleman – SMP Muhammadiyah 2 Godean kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun generasi yang berakhlak mulia dan berkarakter melalui kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kenakalan Remaja, Kekerasan, dan Paham Radikalisme yang diselenggarakan pada Selasa (22/9/2026) di Masjid At-Tauhid Kompleks SMP Muhammadiyah 2 Godean, Sembuh, Sidomulyo, Godean, Sleman, Yogyakarta, yang berada di sebelah timur calon  Mapolda DIY.


Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas VII, VIII, dan IX bersama orang tua/wali murid serta dihadiri seluruh guru dan tenaga kependidikan SMP Muhammadiyah 2 Godean. Kehadiran orang tua dan siswa secara bersama-sama menjadi wujud sinergi antara sekolah dan keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan remaja pada era digital.


Sejak jelang siang, suasana Masjid At-Tauhid tampak penuh oleh peserta yang mengikuti kegiatan dengan tertib dan antusias. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana edukasi bagi siswa, tetapi juga menjadi bagian dari program parenting untuk memperkuat pemahaman orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.


Dalam sambutannya, Kepala SMP Muhammadiyah 2 Godean, Wahdan Arifudin, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk tindak lanjut dan penguatan terhadap Edaran Bupati Sleman Nomor 400 Tahun 2026 yang perlu dipahami oleh seluruh warga sekolah.


Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks. Anak-anak tidak hanya berinteraksi di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat, tetapi juga hidup di dunia digital yang memungkinkan mereka memperoleh berbagai informasi tanpa batas.


“Perkembangan teknologi informasi dan media sosial berlangsung sangat cepat. Anak-anak kita sekarang hidup di dua dunia sekaligus, yaitu dunia nyata dan dunia digital. Oleh karena itu, sekolah dan orang tua harus berjalan bersama agar mampu memberikan pendampingan yang tepat,” ungkapnya.


Ia menambahkan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter, akhlak, dan kemampuan sosial peserta didik. Sekolah berharap siswa mampu membangun pergaulan yang sehat, menghormati orang tua dan guru, menjauhi perilaku menyimpang, serta mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.


Lebih lanjut, Wahdan Arifudin menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak dapat dibebankan kepada sekolah semata. Peran orang tua sangat menentukan karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak.


“Kami berharap setelah mengikuti kegiatan ini, orang tua semakin aktif melakukan pendampingan, membangun komunikasi yang baik dengan anak, mengawasi penggunaan media sosial, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.


Materi utama disampaikan oleh Iptu Paijan dan Aiptu Nunung dari Bimas Polsek Godean. Dalam paparannya,  dijelaskan berbagai bentuk kenakalan remaja yang saat ini banyak ditemukan di lingkungan masyarakat dan dapat berujung pada permasalahan hukum.


Beberapa bentuk kenakalan remaja yang disoroti antara lain perundungan (bullying), tawuran, penyalahgunaan narkoba, konsumsi minuman keras, pelanggaran lalu lintas, pergaulan yang tidak sehat, hingga tindak kekerasan yang dilakukan maupun dialami oleh remaja.


Narasumber mengingatkan bahwa usia remaja merupakan masa pencarian jati diri sehingga sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan. Karena itu, pemilihan teman dan lingkungan pergaulan menjadi faktor yang sangat penting.


Dalam kesempatan tersebut, Bapak Paijan menyampaikan sebuah pesan yang menarik perhatian peserta.


“Satu teman yang buruk bisa merusak seribu nasihat baik dari orang tua.”


Pesan tersebut mengingatkan bahwa pengaruh teman sebaya sering kali lebih kuat dibandingkan nasihat yang diberikan keluarga. Oleh karena itu, siswa diminta berhati-hati dalam memilih teman dan tidak mudah mengikuti ajakan yang mengarah pada perilaku negatif.


Selain itu, narasumber juga memberikan pemahaman mengenai kesadaran hukum bagi remaja. Dijelaskan bahwa status sebagai anak di bawah umur tidak berarti terbebas dari konsekuensi hukum.


Apabila seorang anak melakukan pelanggaran atau tindak pidana, proses penanganannya tetap dapat dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku melalui mekanisme peradilan anak. Karena itu, para siswa diminta untuk menjauhi segala bentuk tindakan yang melanggar hukum.


Salah satu materi yang mendapat perhatian besar dari peserta adalah bahaya penyalahgunaan narkoba dan minuman keras. Narasumber menjelaskan bahwa kebiasaan merokok sering kali menjadi pintu masuk terhadap perilaku yang lebih berisiko, termasuk penyalahgunaan narkotika.


Para siswa juga diingatkan agar tidak mudah menerima titipan barang atau paket yang tidak jelas asal-usulnya. Seseorang dapat berhadapan dengan masalah hukum apabila terbukti membawa, menyimpan, atau menguasai barang terlarang meskipun mengaku tidak mengetahui isi barang tersebut.


Selain aspek hukum, kegiatan ini juga membahas pentingnya pencegahan kekerasan terhadap anak. Dalam sesi parenting, narasumber mengajak orang tua untuk membangun pola pengasuhan yang lebih positif melalui komunikasi yang baik, keteladanan, dan pendampingan yang konsisten.


Orang tua diingatkan bahwa anak belajar banyak hal dari perilaku yang mereka lihat setiap hari di rumah. Karena itu, keteladanan menjadi metode pendidikan yang paling efektif. Orang tua juga diharapkan menghindari kebiasaan membandingkan anak dengan saudara atau teman sebaya karena dapat menurunkan rasa percaya diri anak.


Sebaliknya, orang tua dianjurkan untuk lebih sering mendengarkan cerita anak, memahami kondisi emosinya, memberikan apresiasi atas usaha yang dilakukan, serta membangun kedekatan yang membuat anak merasa aman untuk terbuka kepada keluarga.


Materi berikutnya membahas kewaspadaan terhadap paham radikalisme dan berbagai bentuk ajakan yang mengarah pada tindakan kekerasan. Di era media sosial saat ini, anak-anak dapat dengan mudah menerima informasi dari berbagai sumber yang belum tentu benar.


Oleh karena itu, siswa diajak untuk berpikir kritis, tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya, serta tidak terpengaruh oleh ajakan yang mengandung kebencian, permusuhan, intoleransi, maupun tindakan yang bertentangan dengan hukum dan nilai-nilai kemanusiaan.

Para peserta juga diingatkan bahwa agama mengajarkan kedamaian, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama. Karena itu, pemahaman keagamaan yang moderat dan benar perlu terus diperkuat sebagai benteng dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif.


Sebagai penutup, seluruh siswa dan orang tua/wali melakukan penandatanganan Komitmen Bersama Pencegahan Kenakalan Remaja dan Bahaya Radikalisme. Penandatanganan tersebut menjadi simbol kesepakatan bersama untuk memperkuat pendidikan karakter, meningkatkan pengawasan dan pendampingan anak, serta menciptakan lingkungan sekolah dan keluarga yang aman, nyaman, dan kondusif.


Melalui kegiatan ini, SMP Muhammadiyah 2 Godean berharap terbangun kesadaran bersama bahwa pencegahan kenakalan remaja, kekerasan, dan radikalisme bukan hanya tanggung jawab sekolah atau aparat penegak hukum, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Dengan sinergi yang kuat antara sekolah, keluarga, dan lingkungan, diharapkan lahir generasi yang cerdas, berkarakter, religius, sadar hukum, serta mampu menghadapi perkembangan zaman dengan bijaksana sesuai visi sekolah untuk mewujudkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa, berprestasi, berbudaya dan berwawasan lingkungan. 

Read More

Minggu, 20 September 2026

 Prof. M. Suyanto: AI Harus Menjadi Alat untuk Melahirkan Kreativitas, Karya, dan Masa Depan Siswa

Prof. M. Suyanto: AI Harus Menjadi Alat untuk Melahirkan Kreativitas, Karya, dan Masa Depan Siswa


Sleman – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) menuntut dunia pendidikan melakukan transformasi pembelajaran agar mampu menyiapkan generasi yang kreatif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Semangat itulah yang mengemuka dalam kegiatan Implementasi Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial serta Pembelajaran Mendalam bagi Kepala SMP/MTs se-Kabupaten Sleman yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Penerbit Andi Yogyakarta di Home Theater Lantai 4 Universitas Amikom Yogyakarta, Rabu (16/9/2026).


Kegiatan yang diikuti para kepala sekolah SMP dan MTs se-Kabupaten Sleman tersebut menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang pendidikan, teknologi, dan kecerdasan artifisial.


Acara dibuka oleh Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, H. Ponidi, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa pembelajaran koding, kecerdasan artifisial, dan pembelajaran mendalam merupakan bagian penting dari transformasi pendidikan yang harus terus diimplementasikan dan dikolaborasikan di sekolah.


Menurut Ponidi, keberhasilan implementasi pembelajaran tersebut tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada komitmen kepala sekolah dan guru dalam menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan zaman.


"Kami berharap materi yang diperoleh hari ini dapat terus diimplementasikan dan dikolaborasikan oleh seluruh guru dan peserta didik sehingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah," ujarnya.


Sebelum sesi utama, peserta memperoleh berbagai inspirasi melalui pemaparan praktik baik (best practice) dari SMP Negeri 1 Pakem dan SMP Negeri 1 Kalasan yang telah mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran berbasis teknologi di sekolah masing-masing.


Peserta juga mendapatkan penguatan materi dari Maria Maghdalena Sumakul, penulis buku Koding dan Kecerdasan Artifisial, serta Edy Thomas Suharto, Kepala SMP Negeri 10 Yogyakarta, yang memaparkan berbagai strategi implementasi pembelajaran koding, AI, dan pembelajaran mendalam dalam konteks pendidikan menengah pertama.


Dari Guru SMP Menuju Panggung Dunia


Sesi yang paling menyita perhatian peserta disampaikan oleh Prof. Dr. M. Suyanto, M.M., Founder dan Rektor Universitas Amikom Yogyakarta, yang dikenal sebagai akademisi, entrepreneur, penulis, sekaligus pelaku industri kreatif nasional dan internasional. Prof. Suyanto merupakan pendiri sekaligus Rektor Universitas Amikom Yogyakarta yang selama bertahun-tahun mengembangkan pendidikan berbasis teknologi, kewirausahaan, dan ekonomi kreatif.


Dengan gaya penyampaian yang santai, penuh humor, sekaligus inspiratif, Prof. Suyanto mengawali materinya dengan menceritakan perjalanan hidupnya yang berangkat dari seorang guru Fisika SMP Muhammadiyah Kasihan Bantul hingga akhirnya kini dipercaya tampil dalam berbagai forum internasional.


Ia mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak selalu ditentukan oleh nilai akademik yang tinggi, tetapi oleh kemauan belajar, keberanian mencoba, serta kemampuan mengubah ide menjadi karya yang bermanfaat.


"AI hanyalah alat. Yang menentukan masa depan tetap manusia yang kreatif, mau belajar, dan berani berkarya," tegasnya.


Creative Economy: Mengubah Ide Menjadi Nilai


Dalam paparannya, Prof. Suyanto memperkenalkan konsep Creative Economy atau ekonomi kreatif yang selama ini menjadi salah satu fokus pengembangannya di Universitas Amikom Yogyakarta. Ia menjelaskan bahwa ekonomi kreatif pada dasarnya adalah kemampuan mengubah ide menjadi nilai ekonomi melalui kreativitas, inovasi, dan teknologi. Konsep tersebut juga menjadi bagian dari pengembangan kewirausahaan di lingkungan Amikom melalui Amikom Creative Economy Park.


Menurutnya, di era digital saat ini seseorang dapat memperoleh penghasilan dari berbagai bidang kreatif seperti desain grafis, fotografi, videografi, animasi, penulisan, pengembangan aplikasi, pembuatan konten digital, hingga industri film.


Ia mencontohkan banyak generasi muda yang mampu memperoleh penghasilan besar melalui platform digital karena memiliki kemampuan menciptakan karya yang diminati masyarakat.


Oleh karena itu, sekolah perlu mulai membangun budaya kreativitas sejak dini agar peserta didik tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan produk dan solusi yang bernilai.


AI Membuka Peluang Baru


Prof. Suyanto menjelaskan bahwa kecerdasan artifisial telah mengubah berbagai sektor kehidupan, mulai dari kesehatan, keuangan, industri, transportasi, pendidikan, hingga media dan industri kreatif.


Dalam bidang pendidikan, AI dapat membantu guru dan siswa dalam mencari informasi, mengembangkan ide, membuat media pembelajaran, melakukan analisis data, hingga menghasilkan karya kreatif.


Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan AI harus tetap disertai kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan etika.


"Kalau hanya menjadi pengguna AI, kita akan tertinggal. Yang harus dibangun adalah kemampuan menggunakan AI untuk menyelesaikan masalah dan menghasilkan karya," jelasnya.


Cerita Lokal untuk Pasar Global


Sebagai produser dan penulis yang terlibat dalam berbagai proyek animasi internasional, Prof. Suyanto juga berbagi pengalaman mengenai industri film dan animasi.


Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan budaya dan cerita rakyat yang luar biasa. Justru kekayaan inilah yang dapat menjadi kekuatan Indonesia di tingkat dunia.


Ia memperkenalkan prinsip:


"Local Story with Universal Values."


Artinya, cerita lokal Indonesia harus tetap mempertahankan keaslian budaya dan identitasnya, tetapi dikembangkan dengan pesan-pesan kemanusiaan yang dapat dipahami masyarakat dunia.


Menurutnya, dunia internasional tidak mencari cerita yang meniru negara lain, melainkan cerita yang autentik, unik, dan memiliki nilai universal.


Ia mencontohkan berbagai legenda Nusantara yang dapat dikembangkan menjadi film animasi, komik digital, permainan edukatif, maupun konten kreatif berbasis teknologi.


Empat Jalur Masa Depan Generasi Muda


Dalam kesempatan tersebut, Prof. Suyanto juga mengajak para kepala sekolah untuk mulai mempersiapkan peserta didik menghadapi empat jalur profesi utama di masa depan, yaitu:


1. Saintis (Scientist), yang fokus pada riset dan pengembangan ilmu pengetahuan.

2. Profesional, yang bekerja sebagai tenaga ahli di berbagai bidang.

3. Entrepreneur, yang menciptakan usaha dan lapangan pekerjaan.

4. Content Creator, yang menghasilkan karya digital dan konten kreatif bernilai ekonomi.


Keempat jalur tersebut, menurutnya, akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan artifisial secara produktif.


Relevansi bagi Pembelajaran Koding dan AI


Prof. Suyanto menegaskan bahwa pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial tidak boleh berhenti pada kemampuan menggunakan aplikasi atau memahami teori semata.


Pembelajaran harus diarahkan agar siswa mampu:


- Mengidentifikasi masalah.

- Mengembangkan ide solusi.

- Berkolaborasi dalam tim.

- Menghasilkan karya digital.

- Memanfaatkan AI secara bertanggung jawab.

- Membangun portofolio sejak usia sekolah.


Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi tumbuh menjadi inovator dan pencipta karya.


Menyiapkan Generasi Pencipta


Kegiatan yang berlangsung penuh antusias tersebut memberikan wawasan baru bagi para kepala sekolah mengenai pentingnya membangun ekosistem pembelajaran yang mendukung kreativitas, inovasi, kewirausahaan, dan pemanfaatan teknologi secara bijaksana.


Melalui implementasi pembelajaran koding, kecerdasan artifisial, dan pembelajaran mendalam, sekolah diharapkan mampu menyiapkan generasi yang tidak sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan solusi, menghasilkan karya, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.


Sebagaimana ditekankan Prof. M. Suyanto di akhir paparannya, masa depan pendidikan bukan hanya tentang menguasai teknologi, melainkan bagaimana teknologi digunakan untuk melahirkan kreativitas, karya, dan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda Indonesia.

Read More

Jumat, 11 September 2026

 Pengajian Keluarga Besar SMP Muhammadiyah 2 Godean: Meluruskan Niat, Menguatkan Amanah, dan Membangun Sinergi

Pengajian Keluarga Besar SMP Muhammadiyah 2 Godean: Meluruskan Niat, Menguatkan Amanah, dan Membangun Sinergi


SLEMAN — Keluarga besar SMP Muhammadiyah 2 Godean menggelar pengajian pada Jumat siang, 11 September 2026 di aula sekolah yang beralamat di Sembuh, Sidomulyo, Godean, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan tersebut menghadirkan Ust. H. Asih Pujiantoro, S.Pd. sebagai pengisi kajian.


Pengajian diikuti oleh keluarga besar sekolah sebagai bagian dari upaya memperkuat keimanan, ukhuwah, sekaligus membangun kesadaran bersama bahwa tugas mendidik merupakan sebuah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.


Dalam kajiannya, Ust. H. Asih Pujiantoro mengingatkan bahwa anak-anak yang berada di sekolah merupakan amanah yang dititipkan oleh Allah melalui orang tua. Karena itu, guru dan seluruh warga sekolah hendaknya memberikan pelayanan dan pendidikan terbaik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.


“Orang tua telah menitipkan amanah kepada kita. Anak-anak yang berada di sekolah bukan sekadar peserta didik, tetapi amanah yang harus kita didik, kita bimbing, dan kita berikan yang terbaik,” demikian pesan yang disampaikan dalam kajian.


Guru Tidak Sekadar Mengajar


Pengajian juga mengajak seluruh keluarga besar SMP Muhammadiyah 2 Godean untuk melihat profesi pendidik bukan sekadar pekerjaan. Mengajar, membimbing, melayani, memberikan perhatian, hingga membantu peserta didik menghadapi persoalan merupakan bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.


Karena itu, seluruh aktivitas di sekolah perlu diawali dengan niat yang lurus. Guru dan tenaga kependidikan tidak hanya dituntut bekerja secara profesional, tetapi juga membangun keikhlasan dalam setiap pelayanan.


Menurutnya, sekolah harus terus berusaha memberikan pengalaman terbaik bagi peserta didik. Hal-hal sederhana seperti memberikan perhatian, menyambut siswa dengan baik, meningkatkan pelayanan, serta menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman merupakan bagian penting dari pendidikan.


Jangan Terjebak Zona Nyaman


Selain membahas amanah pendidikan, kajian juga menekankan pentingnya inovasi. Sekolah tidak boleh berhenti pada cara-cara lama hanya karena sudah merasa nyaman.


“Ayo berinovasi, ayo berkreasi,” menjadi salah satu pesan penting yang ditekankan dalam kajian.


Guru didorong untuk terus mencari cara baru dalam pembelajaran, tenaga kependidikan meningkatkan kualitas pelayanan, sedangkan pimpinan sekolah terus melakukan evaluasi terhadap kebijakan dan program yang telah berjalan.


Inovasi tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar. Keberanian untuk memperbaiki hal-hal kecil secara konsisten juga merupakan bagian dari inovasi dan budaya mutu sekolah.


Orang Tua dan Sekolah Harus Menjadi Dua Sayap


Hal lain yang mendapat perhatian adalah pentingnya membangun hubungan yang kuat antara sekolah dan orang tua.


Ust. H. Asih Pujiantoro menggambarkan hubungan orang tua dan sekolah seperti dua sayap burung. Apabila salah satu sayap mengalami gangguan, burung tidak akan dapat terbang secara optimal. Demikian pula dalam pendidikan anak. Ketika sekolah dan orang tua tidak berjalan bersama, perkembangan anak juga tidak akan maksimal.


Karena itu, komunikasi, kepercayaan, dan kolaborasi antara guru dengan orang tua harus terus dibangun.


Orang tua yang mendapatkan pengalaman positif dari sekolah juga dapat menjadi bagian dari kekuatan sekolah melalui cerita dan pengalaman baik yang mereka sampaikan kepada masyarakat. Dengan demikian, kualitas layanan sekolah tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga oleh orang tua.


Siswa Bukan Sekadar Angka


Dalam konteks penerimaan peserta didik, pengajian mengingatkan agar sekolah tidak memandang calon siswa hanya sebagai angka untuk memenuhi kuota.


Lebih dari itu, setiap anak yang datang ke sekolah harus dipandang sebagai amanah dan kesempatan untuk menyelamatkan satu generasi.


Niat inilah yang harus menjadi landasan dalam mengembangkan sekolah. Persoalan jumlah siswa dan rezeki hendaknya tidak menjadi satu-satunya orientasi. Ketika niat diluruskan untuk memberikan pendidikan terbaik, membekali anak dengan ilmu, agama, akhlak, dan karakter, maka ikhtiar tersebut diharapkan menjadi bagian dari amal kebaikan.


Tidak Terlalu Larut dalam Penilaian Manusia


Pada bagian akhir kajian, jamaah diajak untuk tidak terlalu larut dalam penilaian manusia. Setiap orang dapat memberikan penilaian yang berbeda. Ada kalanya seseorang dipuji, tetapi pada kesempatan lain mendapat kritik.


Karena itu, yang terpenting adalah terus melakukan evaluasi dan memperbaiki diri sembari menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.


Jamaah diajak merenungkan doa:


“Hasbiyallāhu lā ilāha illā Huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa Huwa Rabbul ‘Arsyil ‘Azhīm.”


Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan Yang memiliki ‘Arsy yang agung.


Pesan tersebut menjadi penguatan agar seluruh keluarga besar sekolah tetap tenang dalam menjalankan amanah, tidak mudah menyerah karena penilaian manusia, serta senantiasa menjadikan Allah sebagai tempat bersandar.


Menjadi Sekolah yang Amanah dan Terus Bertumbuh


Pengajian keluarga besar SMP Muhammadiyah 2 Godean menjadi momentum untuk melakukan refleksi bersama. Pendidikan tidak hanya membutuhkan program yang baik, tetapi juga hati yang baik, kerja sama yang kuat, pelayanan yang tulus, serta keberanian untuk terus melakukan perubahan.


Keluarga besar SMP Muhammadiyah 2 Godean diharapkan semakin solid dalam menjalankan amanah pendidikan. Dengan meluruskan niat, menjaga amanah, memperkuat sinergi dengan orang tua, terus berinovasi, dan bertawakal kepada Allah, sekolah diharapkan mampu memberikan pendidikan terbaik bagi generasi penerus.


Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak siswa yang diterima, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang diberikan sekolah bagi kehidupan anak-anak yang dipercayakan kepada kita.


Semoga setiap ilmu yang disampaikan, setiap pelayanan yang diberikan, dan setiap ikhtiar dalam mendidik menjadi amal kebaikan yang mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Read More

Senin, 07 September 2026

 SMP Muhammadiyah 2 Godean Sosialisasikan Kurikulum Tahun 2026/2027, Perkuat Literasi, Karakter, Kepemimpinan, dan Teknologi

SMP Muhammadiyah 2 Godean Sosialisasikan Kurikulum Tahun 2026/2027, Perkuat Literasi, Karakter, Kepemimpinan, dan Teknologi



GODEAN - SMP Muhammadiyah 2 Godean menyelenggarakan Sosialisasi Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) Tahun Ajaran 2026/2027 pada Jumat, 4 September 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–14.30 WIB di Aula SMP Muhammadiyah 2 Godean tersebut diikuti oleh guru dan karyawan, komite sekolah, Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean, pengawas sekolah, perwakilan orang tua/wali, serta peserta didik kelas VII, VIII, dan IX.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi seluruh warga sekolah dan pemangku kepentingan mengenai arah, tujuan, serta program pendidikan yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan.

Kepala SMP Muhammadiyah 2 Godean, Wahdan Arifudin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kurikulum tidak boleh dipandang hanya sebagai dokumen administrasi sekolah, tetapi harus menjadi pedoman bersama dalam menyelenggarakan pendidikan.

“Kurikulum bukan sekadar dokumen administrasi, tetapi menjadi pedoman yang harus digunakan bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan, kualitas pembelajaran, lingkungan belajar, dan karakter peserta didik,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan dan bersama-sama berkomitmen memajukan SMP Muhammadiyah 2 Godean.

Rapor Pendidikan Menjadi Dasar Pengembangan Program

Pemaparan utama disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Ibu Ari Niken Tyastutik. Dalam paparannya dijelaskan bahwa penyusunan program sekolah Tahun Ajaran 2026/2027 salah satunya didasarkan pada hasil Rapor Pendidikan.

Dari hasil tersebut, indikator Iklim Kebinekaan menjadi salah satu capaian tertinggi dengan angka sekitar 90 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa sekolah telah mampu membangun lingkungan yang aman, nyaman, inklusif, dan kondusif bagi seluruh warga sekolah.

Meskipun demikian, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu terus ditingkatkan, khususnya kualitas pembelajaran serta kemampuan literasi dan numerasi peserta didik.

Karena itu, sekolah akan terus mendorong pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna.

Penguatan Gerakan Literasi Sekolah juga menjadi salah satu prioritas. Literasi dan numerasi tidak hanya dilaksanakan dalam kegiatan khusus, tetapi diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran.

Penguatan Karakter Islami dan Budaya Sekolah

Selain aspek akademik, SMP Muhammadiyah 2 Godean memberikan perhatian besar terhadap pembentukan karakter peserta didik.

Budaya sekolah diarahkan pada pembiasaan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun), disiplin, gotong royong, hidup sehat, menjaga kebersihan, peduli lingkungan, serta penguatan akhlak mulia dan nilai-nilai keislaman.

Pembiasaan ibadah juga terus diperkuat melalui pelaksanaan salat wajib dan salat sunnah berjamaah, pembacaan doa, hafalan surat pendek, serta berbagai kegiatan keagamaan.

Hal tersebut sejalan dengan visi SMP Muhammadiyah 2 Godean:

“Terwujudnya insan yang beriman dan bertakwa, berkarakter, berprestasi, serta peduli lingkungan.”

Penguatan ISMUBA dan Kesiapan Ujian Praktik

Dalam struktur kurikulum Tahun Ajaran 2026/2027, sekolah juga memberikan penguatan pada pendidikan Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA).

Penguatan tersebut diharapkan mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki pemahaman agama dan kemampuan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Khusus bagi peserta didik kelas IX, sekolah mengingatkan pentingnya mempersiapkan diri menghadapi ujian praktik ISMUBA. Materi yang dipersiapkan antara lain hafalan, bacaan salat, praktik ibadah, serta kompetensi keislaman lainnya.

Kelulusan Tidak Hanya Ditentukan oleh Ujian

Dalam sosialisasi juga dijelaskan bahwa kelulusan peserta didik tidak hanya ditentukan oleh satu jenis ujian. Penilaian dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan nilai rapor semester 1 sampai dengan semester 6, hasil asesmen, ujian praktik, proses pembelajaran, serta perkembangan sikap spiritual dan sosial peserta didik.

Keputusan kelulusan nantinya dilakukan melalui rapat dewan guru dengan mempertimbangkan perkembangan peserta didik secara komprehensif.

Pengawas Dorong Penguatan Budaya Literasi dan Al-Qur'an

Penguatan juga disampaikan oleh Pengawas Manajerial, Drs. Warjiyanta Panca Wasana, M.Hum. Beliau menekankan pentingnya membangun budaya literasi secara konsisten.

Menurutnya, kemampuan peserta didik akan berkembang lebih baik ketika proses belajar melibatkan berbagai aktivitas, seperti mendengar, membaca, menulis, mengungkapkan kembali, dan mempraktikkan.

Ia juga mendorong sekolah menyediakan waktu khusus untuk membaca Al-Qur'an dan melakukan murojaah hafalan secara rutin, misalnya sebelum pembelajaran dimulai atau setelah salat Dhuha.

“Semakin banyak indera yang digunakan dalam proses belajar, seperti mendengar, membaca, menulis, dan mempraktikkan, maka pemahaman anak akan semakin baik,” ungkapnya.

Selain literasi, beliau juga mendorong sekolah memperluas kesempatan peserta didik untuk tampil dan memimpin, seperti menjadi MC, imam salat, penceramah muda, maupun pemimpin kegiatan.

PCM Godean Dorong Kaderisasi dan Kepemimpinan

Sementara itu, H. Ken Sarjono, S.Pd, mewakili Pimpinan Cabang Muhammadiyah Godean, memberikan penguatan mengenai pentingnya kaderisasi dan kepemimpinan peserta didik.

Menurutnya, siswa SMP Muhammadiyah 2 Godean perlu diberikan ruang yang lebih luas untuk mengembangkan kemampuan berbicara di depan umum, memimpin kegiatan, menjadi imam, MC, maupun penceramah muda.

Kemampuan tersebut diharapkan menjadi bekal ketika peserta didik terjun ke masyarakat sekaligus menjadi bagian dari proses kaderisasi Muhammadiyah.

“Ketika anak-anak nanti berada di masyarakat, mereka harus berani tampil, berani berbicara, mampu menjadi imam, mampu memimpin kegiatan, dan siap menjadi kader Muhammadiyah yang membawa manfaat bagi lingkungannya,” tuturnya.

Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman Dorong Penguatan Tahfiz

Penguatan program keagamaan juga disampaikan oleh Ibu Hj. Umi Rochmiyati, S.Pd, dari Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman.

Beliau memberikan perhatian terhadap pentingnya program tahfiz dan pembiasaan membaca Al-Qur'an di sekolah.

Sekolah diharapkan dapat menyediakan waktu khusus setiap hari untuk membaca Al-Qur'an dan murojaah hafalan secara bersama-sama.

Menurutnya, pembiasaan yang sederhana tetapi dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar terhadap kemampuan hafalan dan kecintaan peserta didik terhadap Al-Qur'an.

Orang Tua Berikan Masukan: Penjemputan hingga Literasi Digital

Kegiatan sosialisasi berlangsung interaktif. Perwakilan orang tua siswa kelas VIII, Ibu Asfa, menyampaikan apresiasi kepada sekolah karena telah memberikan ruang keterbukaan kepada orang tua untuk memahami program dan kebijakan sekolah.

Ia menilai sosialisasi tersebut memberikan banyak informasi mengenai kurikulum, pembelajaran, program keagamaan, ekstrakurikuler, hingga pengembangan karakter peserta didik.

Namun demikian, ia juga menyampaikan beberapa masukan.

Pertama, terkait sistem penjemputan peserta didik. Menurutnya, kepadatan lalu lintas pada jam pulang sekolah perlu mendapatkan perhatian. Ia mengusulkan adanya area tunggu yang lebih tertata dan aman bagi orang tua sehingga proses penjemputan tidak mengganggu arus lalu lintas sekaligus memberikan kenyamanan bagi peserta didik.

Kedua, orang tua mendorong sekolah untuk semakin memperkuat literasi digital dan keterampilan teknologi.

Beberapa bidang yang dapat dikenalkan kepada peserta didik antara lain coding dan pemrograman, kecerdasan buatan (AI), keamanan digital, aplikasi produktivitas, serta pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran dan kreativitas.

Menurutnya, kegiatan tersebut dapat dikemas melalui seminar, workshop, kelas inspirasi, pelatihan, maupun ekstrakurikuler dengan menghadirkan narasumber dari luar sekolah.

Menuju Sekolah yang Adaptif dan Berkemajuan

Berbagai masukan dalam kegiatan tersebut mendapatkan perhatian positif dari pihak sekolah. Masukan dari pengawas, persyarikatan, Majelis Dikdasmen dan PNF, komite, serta orang tua akan menjadi bahan evaluasi dan pengembangan program sekolah.

SMP Muhammadiyah 2 Godean berkomitmen membangun pendidikan yang seimbang antara iman, ilmu, akhlak, prestasi, kepemimpinan, literasi, teknologi, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Transformasi digital juga menjadi salah satu bagian dari pengembangan sekolah. Guru didorong untuk memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijaksana sebagai sarana pendukung pembelajaran yang efektif, kreatif, dan inovatif.

Melalui kegiatan tersebut, sekolah, orang tua, persyarikatan, komite, dan peserta didik meneguhkan komitmen untuk membangun sinergi dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Sosialisasi KSP Tahun Ajaran 2026/2027 bukan sekadar penyampaian program, tetapi menjadi ruang bersama untuk menyatukan visi dan membangun komitmen dalam mewujudkan pendidikan yang berkemajuan.

Dengan semangat kolaborasi, SMP Muhammadiyah 2 Godean terus berupaya mewujudkan sekolah yang unggul, Islami, berkarakter, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan mampu melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, berprestasi, serta bermanfaat bagi masyarakat.

Read More

Senin, 31 Agustus 2026

 Maulid Nabi Muhammad SAW di SMP Muhammadiyah 2 Godean, Kuatkan Iman dan Amal Shaleh

Maulid Nabi Muhammad SAW di SMP Muhammadiyah 2 Godean, Kuatkan Iman dan Amal Shaleh

Godean, Sleman, Yogyakarta — SMP Muhammadiyah 2 Godean menyelenggarakan Pengajian dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang bertempat di Masjid At-Tauhid, Kompleks SMP Muhammadiyah 2 Godean, Sembuh, Sidomulyo, Godean, Sleman, Yogyakarta (24/8), atau tepatnya di sebelah timur calon Mapolda DI Yogyakarta.


Kegiatan pengajian berlangsung dalam suasana penuh khidmat dan menjadi momentum bagi keluarga besar SMP Muhammadiyah 2 Godean untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus meneladani akhlak dan perjuangan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.


Dalam tausiyahnya, Ustadz H. Musthofa, S.Ag., M.Pd.I. menyampaikan pentingnya menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam kehidupan. Peringatan Maulid Nabi tidak semata-mata menjadi kegiatan seremonial, tetapi harus mampu meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah dan mendorong umat Islam untuk mengamalkan ajaran beliau.


Ustadz Musthofa juga mengingatkan jamaah baik murid maupun guru dan karyawan mengenai pentingnya memperkuat iman dan memperbanyak amal saleh sebagai bekal menuju kehidupan akhirat. Al-Qur'an memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh dengan balasan surga. Karena itu, kehidupan seorang muslim hendaknya senantiasa diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah, akhlak yang baik, serta amal yang memberikan manfaat bagi sesama.


Keteladanan Rasulullah SAW, lanjut beliau, dapat diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama melalui kejujuran, kesabaran, kasih sayang, amanah, dan kepedulian terhadap orang lain. Nilai-nilai tersebut sangat penting ditanamkan kepada para peserta didik agar mereka tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak mulia.


Pengajian ini diharapkan menjadi sarana meningkatkan keimanan, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta membangun karakter peserta didik yang berakhlak mulia. Semangat meneladani Rasulullah hendaknya tidak berhenti pada peringatan Maulid, tetapi diwujudkan dalam perilaku sehari-hari di sekolah, keluarga, maupun masyarakat.


Melalui kegiatan tersebut, keluarga besar SMP Muhammadiyah 2 Godean berkomitmen untuk terus menghadirkan pendidikan yang memadukan iman, ilmu, teknologi, dan akhlak, sehingga para peserta didik mampu tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, berprestasi, dan bermanfaat bagi umat.


Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad. Semoga kita semua mendapatkan syafaat Rasulullah SAW dan kelak dikumpulkan bersama beliau di dalam surga Allah SWT. Aamiin.

Read More