Minggu, 20 September 2026

Prof. M. Suyanto: AI Harus Menjadi Alat untuk Melahirkan Kreativitas, Karya, dan Masa Depan Siswa


Sleman – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) menuntut dunia pendidikan melakukan transformasi pembelajaran agar mampu menyiapkan generasi yang kreatif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Semangat itulah yang mengemuka dalam kegiatan Implementasi Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial serta Pembelajaran Mendalam bagi Kepala SMP/MTs se-Kabupaten Sleman yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Penerbit Andi Yogyakarta di Home Theater Lantai 4 Universitas Amikom Yogyakarta, Rabu (16/9/2026).


Kegiatan yang diikuti para kepala sekolah SMP dan MTs se-Kabupaten Sleman tersebut menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang pendidikan, teknologi, dan kecerdasan artifisial.


Acara dibuka oleh Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, H. Ponidi, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa pembelajaran koding, kecerdasan artifisial, dan pembelajaran mendalam merupakan bagian penting dari transformasi pendidikan yang harus terus diimplementasikan dan dikolaborasikan di sekolah.


Menurut Ponidi, keberhasilan implementasi pembelajaran tersebut tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada komitmen kepala sekolah dan guru dalam menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan zaman.


"Kami berharap materi yang diperoleh hari ini dapat terus diimplementasikan dan dikolaborasikan oleh seluruh guru dan peserta didik sehingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah," ujarnya.


Sebelum sesi utama, peserta memperoleh berbagai inspirasi melalui pemaparan praktik baik (best practice) dari SMP Negeri 1 Pakem dan SMP Negeri 1 Kalasan yang telah mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran berbasis teknologi di sekolah masing-masing.


Peserta juga mendapatkan penguatan materi dari Maria Maghdalena Sumakul, penulis buku Koding dan Kecerdasan Artifisial, serta Edy Thomas Suharto, Kepala SMP Negeri 10 Yogyakarta, yang memaparkan berbagai strategi implementasi pembelajaran koding, AI, dan pembelajaran mendalam dalam konteks pendidikan menengah pertama.


Dari Guru SMP Menuju Panggung Dunia


Sesi yang paling menyita perhatian peserta disampaikan oleh Prof. Dr. M. Suyanto, M.M., Founder dan Rektor Universitas Amikom Yogyakarta, yang dikenal sebagai akademisi, entrepreneur, penulis, sekaligus pelaku industri kreatif nasional dan internasional. Prof. Suyanto merupakan pendiri sekaligus Rektor Universitas Amikom Yogyakarta yang selama bertahun-tahun mengembangkan pendidikan berbasis teknologi, kewirausahaan, dan ekonomi kreatif.


Dengan gaya penyampaian yang santai, penuh humor, sekaligus inspiratif, Prof. Suyanto mengawali materinya dengan menceritakan perjalanan hidupnya yang berangkat dari seorang guru Fisika SMP Muhammadiyah Kasihan Bantul hingga akhirnya kini dipercaya tampil dalam berbagai forum internasional.


Ia mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak selalu ditentukan oleh nilai akademik yang tinggi, tetapi oleh kemauan belajar, keberanian mencoba, serta kemampuan mengubah ide menjadi karya yang bermanfaat.


"AI hanyalah alat. Yang menentukan masa depan tetap manusia yang kreatif, mau belajar, dan berani berkarya," tegasnya.


Creative Economy: Mengubah Ide Menjadi Nilai


Dalam paparannya, Prof. Suyanto memperkenalkan konsep Creative Economy atau ekonomi kreatif yang selama ini menjadi salah satu fokus pengembangannya di Universitas Amikom Yogyakarta. Ia menjelaskan bahwa ekonomi kreatif pada dasarnya adalah kemampuan mengubah ide menjadi nilai ekonomi melalui kreativitas, inovasi, dan teknologi. Konsep tersebut juga menjadi bagian dari pengembangan kewirausahaan di lingkungan Amikom melalui Amikom Creative Economy Park.


Menurutnya, di era digital saat ini seseorang dapat memperoleh penghasilan dari berbagai bidang kreatif seperti desain grafis, fotografi, videografi, animasi, penulisan, pengembangan aplikasi, pembuatan konten digital, hingga industri film.


Ia mencontohkan banyak generasi muda yang mampu memperoleh penghasilan besar melalui platform digital karena memiliki kemampuan menciptakan karya yang diminati masyarakat.


Oleh karena itu, sekolah perlu mulai membangun budaya kreativitas sejak dini agar peserta didik tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan produk dan solusi yang bernilai.


AI Membuka Peluang Baru


Prof. Suyanto menjelaskan bahwa kecerdasan artifisial telah mengubah berbagai sektor kehidupan, mulai dari kesehatan, keuangan, industri, transportasi, pendidikan, hingga media dan industri kreatif.


Dalam bidang pendidikan, AI dapat membantu guru dan siswa dalam mencari informasi, mengembangkan ide, membuat media pembelajaran, melakukan analisis data, hingga menghasilkan karya kreatif.


Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan AI harus tetap disertai kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan etika.


"Kalau hanya menjadi pengguna AI, kita akan tertinggal. Yang harus dibangun adalah kemampuan menggunakan AI untuk menyelesaikan masalah dan menghasilkan karya," jelasnya.


Cerita Lokal untuk Pasar Global


Sebagai produser dan penulis yang terlibat dalam berbagai proyek animasi internasional, Prof. Suyanto juga berbagi pengalaman mengenai industri film dan animasi.


Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan budaya dan cerita rakyat yang luar biasa. Justru kekayaan inilah yang dapat menjadi kekuatan Indonesia di tingkat dunia.


Ia memperkenalkan prinsip:


"Local Story with Universal Values."


Artinya, cerita lokal Indonesia harus tetap mempertahankan keaslian budaya dan identitasnya, tetapi dikembangkan dengan pesan-pesan kemanusiaan yang dapat dipahami masyarakat dunia.


Menurutnya, dunia internasional tidak mencari cerita yang meniru negara lain, melainkan cerita yang autentik, unik, dan memiliki nilai universal.


Ia mencontohkan berbagai legenda Nusantara yang dapat dikembangkan menjadi film animasi, komik digital, permainan edukatif, maupun konten kreatif berbasis teknologi.


Empat Jalur Masa Depan Generasi Muda


Dalam kesempatan tersebut, Prof. Suyanto juga mengajak para kepala sekolah untuk mulai mempersiapkan peserta didik menghadapi empat jalur profesi utama di masa depan, yaitu:


1. Saintis (Scientist), yang fokus pada riset dan pengembangan ilmu pengetahuan.

2. Profesional, yang bekerja sebagai tenaga ahli di berbagai bidang.

3. Entrepreneur, yang menciptakan usaha dan lapangan pekerjaan.

4. Content Creator, yang menghasilkan karya digital dan konten kreatif bernilai ekonomi.


Keempat jalur tersebut, menurutnya, akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan artifisial secara produktif.


Relevansi bagi Pembelajaran Koding dan AI


Prof. Suyanto menegaskan bahwa pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial tidak boleh berhenti pada kemampuan menggunakan aplikasi atau memahami teori semata.


Pembelajaran harus diarahkan agar siswa mampu:


- Mengidentifikasi masalah.

- Mengembangkan ide solusi.

- Berkolaborasi dalam tim.

- Menghasilkan karya digital.

- Memanfaatkan AI secara bertanggung jawab.

- Membangun portofolio sejak usia sekolah.


Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi tumbuh menjadi inovator dan pencipta karya.


Menyiapkan Generasi Pencipta


Kegiatan yang berlangsung penuh antusias tersebut memberikan wawasan baru bagi para kepala sekolah mengenai pentingnya membangun ekosistem pembelajaran yang mendukung kreativitas, inovasi, kewirausahaan, dan pemanfaatan teknologi secara bijaksana.


Melalui implementasi pembelajaran koding, kecerdasan artifisial, dan pembelajaran mendalam, sekolah diharapkan mampu menyiapkan generasi yang tidak sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan solusi, menghasilkan karya, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.


Sebagaimana ditekankan Prof. M. Suyanto di akhir paparannya, masa depan pendidikan bukan hanya tentang menguasai teknologi, melainkan bagaimana teknologi digunakan untuk melahirkan kreativitas, karya, dan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda Indonesia.